Suttan Seghayo Dipuncak Nur Mawardi Harirama

Apresiasi Budaya Profil Raja / Ratu / Ketua Adat / Ketua Suku Seni Rupa Seni Rupa Nusantara

 256 total views,  2 views today

Foto : YM Mawardi Harirama Gelar: – Suttan Pangiran Pesirah Marga – Suttan Pangiran Dilappung / Sumber Foto: dok Kedatun Keagungan.

Mawardi Harirama (1951-…): Pelintas Wisata, Budaya, dan Tasawuf

FenomenaBudayaNusantara.com — ASLINYA, dia birokrat yang malang melintang di Jakarta. Tapi, Mawardi Harirama juga pengusaha yang amat memahami budaya serta kebudayaan; dan di atas itu dia tergetar-nanar dengan tasawuf.

Mawardi, kelahiran Lampung, 12 Juni 1951, berpengalaman dalam konsep sister city untuk kota-kota metropolitan seperti Bangkok, Tokyo, Frankfurt, Beijing, Hong Kong, Los Angeles, Paris, Amsterdam, Roma, Bonn, dan London.

Di mata master of science lulusan APP, Departemen Perindustrian RI yang menghabiskan SD–SMA-nya di Lampung ini, Lampung memiliki sejarah budaya yang panjang dan tinggi. Meskipun tidak mengenyam pendidikan formal, nenek moyang orang Lampung mampu menciptakan huruf sendiri.

Foto : Lambang Kedatun Keagungan / Sumber Foto : Dok Kedatun Keagungan

Namun, masyarakat Lampung tetap terbuka terhadap budaya luar, terutama Islam. “Lihatlah ke-19 huruf dalam aksara Lampung: Jumlahnya persis sama dengan huruf dalam bismillahi-rahmanirrahim,” kata dia. Budaya Lampung berdiri di atas lima pilar: Piil pesinggiri, bejuluk beadeh, nemui nyimah, nengah nyappur, dan sakai sembayan. Hal ini juga melambangkan lima rukun Islam. Adat Lampung mengenal burung garuda; sedangkan Alquran juga memetaforkan kegagahan burung ababil saat membebaskan Mekah.

Begitu pun perkasanya burung hud-hud ketika menaklukkan Ratu Balqis. Namun, kata dia, “Sisi budaya dalam konteks ketatapemerintahan ini belum banyak diungkap. Pemerintahan dengan basis budaya dan agama mampu menjadi pemerintahan yang bersih.”

Menurut dia, sistem yang terbukti berhasil di kota-kota dunia sebagian bisa di-bench mark di Lampung; apalagi daerah ini memiliki potensi persis sama seperti beberapa kota besar dunia. Bagi Ketua DPW Shiddiqiyah (Tasawuf) Provinsi Lampung dan Pembina Yayasan Pesirah Marga (lembaga yang bergerak di bidang sosial dan keagamaan) ini, Lampung punya banyak modal untuk sepesat kota-kota dunia.

 

Foto : Dok Kedatun Keagungan Lampung

Lampung pernah tercatat sebagai jalan sutra (silky road) sejak awal Masehi sampai abad ke-16. Silky road menjadi jalur perdagangan internasional yang menghubungkan negara-negara timur dan barat. Lampung, dengan akses kepelabuhanan yang mampu menjangkau pantai-pantai di Afrika, bisa menjadi pijakan merambah market global yang pasarnya masih bisa kita kuasai. Pesisir Lampung berhadapan dengan Selat Malaka; selat tersibuk dengan perdagangan internasionalnya. Selat Sunda cuma “subpelabuhannya” dan itu pun baru muncul berbilang abad kemudian.

Mawardi mengajak kita jauh lebih ke belakang, ke zaman Kerajaan Tulangbawang, ratusan tahun silam. Kerajaan ini tercatat pernah mengirim dutanya ke China pada abad ke-5 dan ke-6. Saat itu, Kerajaan Tulangbawang menjadi salah satu pusat kekuasaan dan perdagangan internasional di Lampung.

 

Foto : Dok Kedatun Keagingan Lampung

Demikian pula Selat Sunda. Pada abad ke-16, selat penghubung Sumatera–Jawa ini telah dikunjungi musafir dan para pedagang dari China, India, serta rombongan pedagang-pedagang dari Timur Tengah. Banyak hasil bumi daerah ini, seperti lada dan pala, yang diekspor ke mancanegara lewat Sungai Tulangbawang dan Pelabuhan Panjang. Demikian pula sebaliknya; banyak negara asing menjual aneka kerajinan antara lain keramik dan sutra ke sini. Perkebunan yang luas kala itu menjadikan masyarakat Lampung makmur dan memiliki rumah besar dengan perabotan dari China dan Eropa.

Bagi Mawardi, kita perlu mengenangkan kejayaan masa lalu, setidaknya untuk menginspirasi. Ratusan tahun lalu saja kita mampu merambah mancanegara dengan keunggulan-keunggulan geografis dan kemampuan diplomasi serta perniagaan internasional. Sekarang dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat ini, dan tetap dengan keunggulan geografis, kita harus mampu berbuat demi kesejahteraan semua.

 

Foto : Dok Kedatun Keagungan Lampung

Lampung ini tetangga terdekat Jakarta; pusat ekonomi, keuangan, dan kekuasaan di negara ini. Ibu Kota itu tempat berpusarnya 70 persen uang secara nasional. Selain itu, Lampung adalah pintu gerbang ke Pulau Sumatera, pulau dengan kemajuan nomor dua setelah Pulau Jawa, pulau yang sejak abad-abad lalu terkenal dengan hasil buminya.

Masyarakat Lampung memiliki sejarah budaya yang panjang dan tinggi. Meskipun tidak mengenyam pendidikan formal, nenek moyang orang Lampung mampu menciptakan huruf sendiri. Namun, masyarakat Lampung tetap terbuka terhadap budaya luar, terutama Islam. Lihatlah ke-19 huruf dalam aksara Lampung: Jumlahnya persis sama dengan huruf dalam bismillahi-rahmanirrahim.

Budaya Lampung berdiri di atas lima pilar: Piil pesinggiri, bejuluk beadeh, nemui nyimah, nengah nyappur, dan sakai sembayan. Hal ini juga melambangkan lima rukun Islam. Adat Lampung mengenal burung garuda; sedangkan Alquran juga memetaforkan kegagahan burung Ababil saat membebaskan Mekah. Begitupun perkasanya burung hud-hud ketika menaklukkan Ratu Balqis. Namun, sisi budaya dalam konteks ketatapemerintahan ini belum banyak diungkap. “Saya yakin pemerintahan dengan basis budaya dan agama mampu menjadi pemerintahan yang bersih,” kata Presiden Direktur PT Kedatun Keagungan yang bergerak di bidang eskpor kerajinan, galeri, dan flooring ini.

Mawardi yakin jika mengingat sejarah, Lampung bisa “melesat” ke orbit terbaiknya. Sejak dahulu, Lampung sudah dikenal sebagai Bumi Agro. Berbagai hasil bumi seperti kopi, gula, nanas, damar, tapioka, kelapa sawit, karet, pisang, dan sumber daya kelautan seperti udang, mutiara, serta ikan laut mengalir ke luar negeri melalui Pelabuhan Panjang. Sementara itu, hasil bumi kita memasok kebutuhan kota-kota penting di Jawa.

 

Foto : YM. Mawardi Harirama

Gelar : Suttan Pangiran Pesirah Marga

– Suttan Pangiran Dilappung

Bahan tambang juga berperan penting dalam menaikkan derajat perekonomian daerah ini. Lihatlah tambang minyak bumi di lepas pantai Lampung Timur, gunung marmer di Lampung Tengah, uranium di Bukit Arahan, Tanggamus, serta Bukit Lematang di Telukbetung dan Pulau Tabuan.

Ada pula batu bara muda (brown coal) di hulu Way Tulangbawang, mineral besi di Labuhan Meringgai, emas dan perak di pesisir barat (baratdaya Way Semangka), di hulu Way Rilau dan Pemerihan. Sumber air panas dan gas bumi di Kotaagung dan Kalianda. Potensi bumi yang paling potensial, berdasar pada penelitian konsultan dari Selandia Baru, ada di Suoh, Lampung Barat.

Foto : Dok Keluarga Kedatun Keagungan

Pariwisata Lampung tinggal menunggu sentuhan kreatif. Kecantikan Bumi Ruwa Jurai ini masih tersembunyi dari tangan-tangan industri kepariwisataan modern. “Saya menawarkan konsep pariwisata yang dikelola badan otorita. Pemerintah tinggal kerja samakan dengan swasta. Badan otorita, yang dimiliki semua kabupaten/kota dengan saham 60:40 untuk pemerintah-swasta, yang mengoordinasikan dengan para investor.

Berbeda dengan Badan Otorita Batam yang bersifat top down, karena itu muncul kesan dualisme pemda-otorita, badan otorita yang saya tawarkan akan bersifat top down karena dimiliki pemda kabupaten/kota. Bupati atau wali kota menjadi pengawas badan tersebut,” kata dia. [FBN/SBY]

Sumber:

Suttan Seghayo Dipuncak Nur Mawardi Harirama

Gelar: Suttan Pangiran Pesirah Marga

– Suttan Pangiran Dilappung

Heri Wardoyo, dkk. 2008. 100 Tokoh Terkemuka Lampung, 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Bandar Lampung

 

BIODATA

Nama: Mawardi Harirama

Gelar: – Suttan Pangiran Pesirah Marga

– Suttan Pangiran Dilappung

Tempat, tanggal lahir: Lampung, 12 Juni 1951

Nama istri: Hj. Sofia Hanum (Suttan Mahkota Suttan)

HiKepenyimbangan: Dilam Adat Pepadun Subing dan Keratun Nuban

Alamat rumah:

  1. Jalan Sultan Haji 45, Sepangjaya, Kedaton, Bandar Lampung
  2. Jalan Raya Jatibening Estate 35 Pondok Gede, Jakarta
  3. Kampung Gedong Dalem Nuban, Terbanggibesar Lampung Tengah

 

Pendidikan:

– SDN Padang Cermin, 1964

– SMPN 1 Telukbetung, 1967

– SMAN 2 Tanjungkarang

– APP Jakarta 1973 (S-1)

– STIA LAN, Jakarta (S-2)

 

Fenomenabudayanusantara.com.

Pameran Virtual Berlangsung Terus Menerus

Kategori: Fenomena Seni Rupa Nusantara

1001 Legenda Krakatau

Kooperatif: Dewan Kesenian Lampung (DKL) bersama Pa’DeWo Anugerah Shaketi (PAS)

Spesifikasi Karya :

Judul: Suttan Seghayo Dipuncak Nur Mawardi Harirama

Ilustrasi: Lukisan Suttan Seghayo Dipuncak Nur Mawardi Harirama

Lokasi: Rumah Adat Lampung Kedatun Keagungan

Karya: Bambang SBY

Bahan: Aquarel diatas kanvas

Ukuran : 50 Cm X 65 Cm

(Standard Internasional/L/15)

Taman Pustaka: Suttan Seghayo Dipuncak Nur Mawardi Harirama – Kedatun Keagungan

Karya: Bambang SBY

Bahan: Aquarel permanen diatas kanvas 

Keterangan Bahan:

Media: Aquarel permanen di atas kanvas diracik sendiri dari pigmen organik dan anorganik dan binder bebahan organik berbasis air, dihasilkan dari hutan dan sumber alam di Lampung Sumatera. cat berbasis air yang mengandung pigmen dari kopi dipergunakan sebagai pengantarnya. Keistimewaan kopi menimbulkan efek yang memiliki karakter sangat kuat, dengan teknik khusus cat air dari bahan organik menghasilkan efek tampilan sangat lembut alami dan betkarakter sangat kuat, sekasar kulit badak. 

Menyatunya cat air dengan kanvas akibat daya kapiler juga sangat membantu kekuatan warna pada lukisan yang diperkuat perlindungannya, dengan menggunakan laquer coating, dengan teknik glasir dan sepuh, berefek membiaskan warna yang unik, sekaligus menyatukan kanvas dengan cat, sampai kedalam pori-pori kain, menjadi satu kesatuan permanen yang tidak retak dan terkupas. 

 Bahan ini memiliki ketahanan yang bebas perawatan ramah lingkungan dan dalam gelap masih terlihat lukisannya. Hemat energi tanpa penerangan lampu. Untuk melukis dengan media berbasis air (cat air) dibutuhkan penguasaan teknik yang prima, apalagi lukisan dibuat dengan karakter asli yang sangat kuat dan memiliki pamor sesuai dengan anergie dari obyek lukisannya. 

 Bahan ini bersifat elastis dan tidak mudah patah bila digulung, setebal apapun tetap menyatu dengan kanvas, lukisan diberi perlindungan pada bagian depan dan belakang lukisan. (Metode Bambang SBY)

 

Virtual Exhibition Continues

Category: Phenomenon of Archipelago Fine Arts 1001 The Legend of Krakatoa

Cooperative: Lampung Arts Council (LAC) with Pa’DeWo Anugerah Shaketi (PAS)

 

Work Specifications:

Title: Suttan Seghayo DiPuncak Nur Mawardi Harirama

 Illustration: Painting of Suttan Seghayo DiPuncak  Nur Mawardi Harirama

 Location: Traditional House of Lampung Kedatun Keagungan

 Works: Bambang SBY

 Material: Aquarel on canvas

 Size: 50 Cm X 65 Cm

(International Standard / L / 15)

Taman Pustaka: Suttan Seghayo DiPuncak Nur Mawardi Harirama

Garden References: Suttan Seghayo DiPuncak Nur Mawardi Harirama – Kedaton Keagungan

Works: Bambang SBY

Material: Permanent Aquarel on canvas

Material Description:

 Media: Permanent aquarel on canvas is formulated by itself from organic and inorganic pigments and water-based organic binders, produced from forests and natural sources in Lampung, Sumatra.  Water-based paints containing pigments from coffee are used as intermediates.  The specialty of coffee has an effect that has a very strong character, with a special technique of watercolor made from organic materials, it produces a very soft, natural appearance effect and has a very strong character, as rough as rhino skin.

 The combination of watercolor with canvas due to capillary power also greatly helps the strength of color in a painting which is strengthened by its protection, by using a laquer coating, with a glaze and gilding technique, which has the effect of refracting a unique color, as well as combining the canvas with the paint, down to the pores of the fabric, into  one permanent unit that does not crack and peel.

  This material has an environmentally friendly maintenance-free resistance and the painting can still be seen in the dark.  Save energy without lighting.  To paint with water-based media (watercolor), excellent technical mastery is required, especially when paintings are made with very strong original characters and have prestige according to the anergie of the object of the painting.

  This material is elastic and does not break easily when rolled, no matter how thick it remains with the canvas, the painting is protected on the front and back of the painting.  (Bambang SBY’s method)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *